Jumat, 06 Juni 2008

Sampah sebagai Solusi Alternatif

Oleh: Linda Yuliana*

Penyediaan Tenaga Listrik di Pulau Bintan Kabupaten Bintan sebelumnya bernama kabupaten Kepulauan Riau. Perubahan nama ini dimaksudkan agar tidak timbul kerancuan antara Provinsi Kepulauan Riau dan kabupaten Kepulauan Riau dalam hal administrasi dan korespondensi sehingga nama kabupaten Kepulauan Riau (Kepri) diganti menjadi kabupaten Bintan. Perubahan nama kabupaten Kepulauan Riau menjadi kabupaten Bintan sesuai dengan PP (Peraturan Pemerintah) No 5 tahun 2006 tertanggal 23 Februari 2006.

Dengan adanya perubahan nama tersebut, kabupaten Bintan akan lebih dikenal dan diharapkan bisa go internasional.Sebab selama ini para pebisnis di Singapura dan Malaysia lebih mengenal Bintan dibanding Kepulauan Riau. Hal itu terkait adanya resort dan kawasan industri di daerah ini. Karena nama Bintan sudah mengglobal maka akan lebih memudahkan dalam menjual potensi yang dimiliki daerah ini ke investor asing. Konsekuensi perubahan nama kabupaten Kepri menjadi Bintan memang cukup besar yakni dengan pindahnya kantor sementara kabupaten Bintan di Kijang, Bintan Timur dengan menempati bekas kantor PT Antam (Aneka Tambang).

Sejalan dengan berkembangnya kabupaten Bintan ini maka masalah krusial yang akan dihadapi adalah seputar sampah sehingga untuk mengantisipasi permasalahan ini sudah seharusnya kabupaten Bintan menerapkan sistim pengelolaan sampah yang berbasis iptek dan produktif karena dalam beberapa tahun kedepan daerah ini diperkirakan akan kesulitan untuk menangani sampah sejalan dengan pesatnya perkembangan kota, meskipun pusat pemerintahan kabupaten Bintan akan dibangun di Teluk Bintan yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari Tanjungpinang. Namun konsentrasi pemukiman penduduk diperkirakan masih mengarah ke Tanjungpinang.

Konsentrasi pendudukan yang begitu padat menjadikan sampah rumah tangga akan terus bertambah masalah. Karena sudah banyak kasus muncul diberbagai kota besar lainnya seperti yang terjadi antara Jakarta dengan Kota Depok. Disana adanya penolakan dari kota Depok terkait sampah dari Jakarta yang dibuang ke wilayah Depok, begitu juga tidak menutup kemungkinan dengan Tanjungpinang dan Bintan masalah serupa beberapa tahun ke depan akan muncul. Dan saat ini di pulau Bintan hanya memiliki TPA (tempat pembuangan akhir) di Batu 15 yang sudah berada di perbatasan antara Tanjungpinang dengan Bintan tepatnya di Desa Tua Paya yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bintan.

Sebenarnya sampah bukan hanya menjadi masalah di Kabupaten Bintan, Kota Tanjungpinang ataupun Kota Batam saja tetapi sampah telah menjadi masalah besar di Indonesia. Hal ini diperkirakan terus meningkat hingga tahun 2020 mendatang, berdasarkan data yang dikeluarkan Asisten Deputi Urusan Limbah Domestik, Deputi V Menteri Lingkungan Hidup, bahwasanya volume sampah perkotaan pada tahun 1995 menghasilkan sampah rata-rata 0,8 kilogram per kapita per hari, kemudian pada tahun 2000 meningkat menjadi 1 kilogram per kapita per hari. sehingga tahun 2020 mendatang diperkirakan mencapai 2,1 kilogram per kapita per hari. Meningkatnya sampah perkotaan telah menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Bukan hanya pemandangan tak sedap atau bau busuk yang ditimbulkannya tetapi juga ancaman terhadap kesehatan.

Untuk memanfaatkan sampah perkotaan sebenarnya telah lama diupayakan para ahli. Salah satunya adalah pemanfaatan sampah untuk diolah menjadi tenaga listrik sebagaimana yang telah di lakukan oleh University of California dengan mengembangkan mikroba di dalam bioreaktor-bioreaktor mereka agar bisa mencapai kecepatan mengurai 30 persen-50 persen dari mikroba yang banyak digunakan sekarang ini. Bioreaktor yang digunakan Ruihong Zhang, peneliti yang mengembangkan sistem tersebut, sama seperti bioreaktor lainnya (anaerobic digester) menggunakan mikroba untuk menguraikan bahan organik menjadi biogas (unsur terbanyaknya adalah methane dan hidrogen). Tetapi ada perbedaan antara bioreaktor Zhang dengan bioreaktor lainnya. Bioreaktor Zhang didesain untuk digunakan mengurai bahan organik padat seperti sisa makanan, sisa pertanian dan sebagainya, sementara bioreaktor yang ada sekarang ini digunakan pada pengolahan air limbah. Dan mikroba yang digunakan juga mampu bekerja menguraikan sampah- sampah organik padat tersebut dengan kecepatan 30 persen-50 persen lebih cepat dibanding mikroba pengurai yang ada. University of California juga telah membangun unit uji coba untuk skala industri yang menerima sampah organic padat sebanyak 8 ton per hari. Sampah organik padat sebanyak 8 ton tersebut kemudian diubah menjadi 300.000 - 600.000 liter biogas. Jumlah tersebut cukup digunakan untuk mensuplai/mengaliri daya listrik sekitar 80 rumah di sekitar unit uji coba tersebut.

Sedangkan proses pemanfaatan sampah menjadi energi listrik di Indonesia terkenal dengan nama PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Biogas), hal ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan, terutama dalam menangani limbah sampah utamanya sampah organik. Sekaligus menjadi salah satu alternatif memberikan pasokan energi listrik yang dinilai cukup terbatas selama ini serta masih banyak menggantungkan pada pembangkit listrik seperti PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Pembangunan PLTB ini diharapkan pula mampu memberikan solusi terhadap permasalahan sampah selama ini, upaya tersebut sekaligus pula agar masyarakat terbebas dari hal-hal yang membahayakan lingkungan, terutama akibat limbah sampah yang dapat mengeluarkan gas-gas beracun (methana). Melalui pengelolaan energi biogas dari sampah ini maka gas methana yang dihasilkan limbah sampah dapat diolah menjadi energi listrik. Pembuatan listrik biogas ini menggunakan parit-parit sebagai saluran pipa biogas hasil pembusukan sampah organik itu disalurkan ke pompa vortex, kemudian dari pompa Vortex mengalirkan gas methane yang mudah terbakar ini ke sebuah mesin diesel yang menghasilkan daya listrik sebesar 40.000 watt untuk perhitungan sekitar 500 - 1.000 meter kubik sampah yang dibuang ke TPA.

Pembangunan PLTB itu sendiri tidak mengganggu keberadaan pemulung, karena mereka masih dapat mencari keuntungan dari sampah-sampah yang ada, kemudian dalam proses pembangunannnya membutuhkan dana investasi yang cukup besar. Begitu pula keuntungan ekonomis dari investasi bisnis PLTB ini, yang tidak dapat langsung dirasakan perolehan laba/keuntungannya terutama untuk jangka pendek, tapi akan mulai dirasakan untuk jangka panjang. Selain membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membangun PLTB dari sampah, yakni mulai dari pembangunan instalasi, pengeboran, maupun infrastruktur lainnya, juga akan memakan waktu lama untuk mencapai keuntungan ekonomis. Dengan asumsi BEP (break event point) atau titik impasnya sekitar 9 sampai 10 tahun. Kemudian keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTB) ini termasuk inovasi baru di Indonesia. Sedangkan di negara-negara lain terutama di Eropa, termasuk di Asia seperti Korea Selatan, Malaysia maupun Thailand sudah berjalan cukup lama. Di Inggris misalnya, pembangkit listrik tenaga biogas sampah sudah memasuki tahun yang ke - 15 dengan kapasitas mencapai 400 MW.

Untuk membangun PLTB di TPA Tua Paya maka kita perlu belajar dari beberapa daerah di Indonesia yang sudah terlebih dahulu membangun kerjasama dengan investor untuk membangun PLTB diantaranya dilakukan oleh PT PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten yang memanfaatkan sampah di TPA Leuwigajah Cimahi dan TPA Bantargebang Bekasi. Konsepi ini juga salah cara mengatasi krisis energi listrik yang terjadi di Pulau Bintan

SAPI UNTUK KOMPOR GAS


Kotoran sapi juga sumber gas untuk kompor. Menurut Hardi Julendra,periset Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia-LIPI, “lima puluk kg kotoran menghasilkan 100 liter biogas per hari. Itu bias dipakai memasak sselama 2 jam non-stop”.

Air dan kotoran mengalir ke tangki penampungan berupa plastic plietilen 5 m3 setara 5.000 liter yang terpendam agar suhu stabil. Kotoran sapi difermentasi selama 1 minggu. Selama fermentasi, molekul kompleks kotoran diurai menjadi bentuk lebih sederhana. Akhirnya, dengan proses metagenesis menghasilkan gas metan. Hasil sampingan antara lain berupa karbondioksida, air dan senyawa gas. Menurut Andreas Wiji, pengusaha biogas di Ciloke, Kabupaten Bandung, dalam satu kali proses biogas alam diperoleh 55-56% gas metan, 30-35% CO2, dan 2% O2.

Gas metan merambat ke lapisan atas tangki penampung. Tingginya hanya 0,5 m, tepat di bagian atas penampung. Di bagian atas tangki terdapat terowongan penyalur kotoran ke bak penampungan. Bak penampungan 2 m x 1 m x 1 m. biogas mengalir ke genset melalui pipa ke katup yang berfungsi mengatur pasokan biogas.

Mesin genset bergerak jika terdapatgas metan minimal 0,64-1 m3. Gas itulah yang diubah menjadi listrik dan energy untuk bahan bakar kompor. Dua sapi menghasilkan 45,5 kg kotoran memproduksi energy listrik untuk 4 lampu berkekuatan 75 watt selama 6 jam. Kelebihan bahan bakar biogas untuk memasak menghasilkan nyala biru dan panas yang sama dengan LPG, tidak beracun, nirbau, serta tidak menimbulkan jelaga.

BRIKET SAMPAH

Energy yang paling mudah diciptakan adalah briket sampah. Bahan bakaunya hanya sampah organic seperti kayu-kayu sisa, daun-saun kering, makanan sisa, dan kertas. Cara pembuatannya mirip pembuatan arang. Bahan-bahan itu dibakar sampai berbentuk arang berwarna hitam pekat. Saat bara api merata ke seluruh bagian bahan, segera disiram air. Hasil berupa arang itu ditumbuk menggunakan alat penumbuk atau martil. Kemudian ditambahkan daun-daun tnaman segar yang lunak dan tinggi kandunga air.

Dfaun-daun itu diambil dari sisa-sisa sampah pasar atau sayuran seperti bayam, kangkung, atau sawi yang sudah terbuang. Persentase komposisi bahan pembuat briket organikadalah 80% arang sampah organic kering dan 20% campuran daun segar. Jadi, bila dicam,purkan 800 g sampah organic butuh 200 g daun segar. Setelah tercampur rata, adonan dicetak dengan ukuran dan bentuk sebagai briket. Briket itu dijemur di bawah terik matahari sampai kering. Tanda-tanda briket sudah kering dengan cara meletakkannya dan mengangkatnya di telapak tangan. Briket kering terasa ringan dan jelaga di permukaan tidak terlalu mengotori telapak tangan.

HEMAT DENGAN BIOGAS

Kelangkaan minyak tanah dan sulitnya mendapatkan gas elpiji, mendorong measyarakat memanfaatkan potensi biogas dari halam rumah. Salah satu yang banyak dilakukan adalah memanfaatkan limbah kotoran ternak sapi. Dengan memelihara 2-3 ekor sapi, kebutuhan minyak tanah 1,2 liter untuk 4 – 6 anggota keluarga dapat diganti dengan yang dibuat dalam plastic polietilen 5 m3. Inilah hitung-hitungan yang dilakukan oleh Ir. Salundik, M.Si, peneliti di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Biaya

- Plastic polietilen lebar 1,5 m 17 buah Rp 170.000

- PVC ½ inci, 1 batang Rp 15.000

- PVC 6 inci, 1 batang Rp 30.000

- Lem karet, 1 kaleng Rp 10.000

- Lem PVC, 1 tube Rp 10.000

- Lakban, 1 buah Rp 15.000

- Keran gas, 1 buah Rp 25.000

- Selang plastic ½ inci, 10 m Rp 30.000

- Sambungan pipa T, 1 buah Rp 2.000

- Shock drat, 2 pasang Rp 4.000

- Karet ban dalam selebar 20 cm, 1 lembar Rp 2.000

- Tali karet ban dalam, 8 helai Rp 4.000

- Clamp selang, 5 buah Rp 2.500

- Kompor gas, 1 buah Rp 250.000

Total biaya Rp 569.000

Produksi biogas

- Dalam sehari 2,4 m3 setara 1,49 liter minyak tanah @Rp3.000 Rp 4.700

- Dalam sebulan 72 m3 setara 44,54 liter minyak tanah @Rp3.000 Rp 133.620

- Dalam setahun 864 m3 setara 535,68 liter minyak tanah @Rp3.000 Rp 1.67.040

Kebutuhan minyak tanah

- Dalam sehari, 2 liter @Rp3.000 Rp 6.000

- Dalam sebulan, 60 liter @Rp3.000 Rp 180.000

- Dalam setahun, 720 liter @Rp3.000 Rp 2.160.000

Keuntungan dari pembuatan biogas

- Dalam sebulan, Rp133.620 – Rp47.458 Rp 86.162

- Dalam setahun, Rp 1.607.040 – Rp569.000 Rp 1.037.540

Penghematan

- Dalam sehari, Rp6.000 – Rp 1.559 Rp 4.441

- Dalam sebula, Rp180.000 – Rp47.458 Rp 132.541

- Dalam setahun, Rp2.160.000 – Rp569.000 Rp 1.591.000

Catatan : Peralatan untuk pembuatan biogas disusutkan selama 1 tahun

Olah Limbah Jadi Minyak


Di atas wastafel di sebuah rumah di Bojonggede, Kabupaten Bogor, siti Aisyah membersihkan ikan mujair dan lele. Ia mengeluarkan isi perut kedua ikan itu dan membuanganya jauh. “Kalau dibuang di tempat sampah depan rumah malah kececeran dimaka kucing”. Kata perempuan 20 tahun itu. Padahal, jika diolah perut ikan ak menghasilkan minyak sebagai bahan bakar kompor.

Selain perut ikan atau sohor sebagai jeroan, bagian tubuh satwa perairan itu seperti kepala, ekor, dan tulang juga potensial sebagai bahan bakar. Bahkan ikan busuk sekalipun. Potensi limbah ikan itu amat besar. Sebagai gambaran, volume limbah pengalengan ikan di Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, saja mencapai 50-60 ton per bulan. Perusahaan farmasi dan makanan memeang menyuling limabh itu menjadi senyawa aktif omega 3. “Nmaun, jumlahnya masih tetap melimpah”, kata Ir. Kristio Budiarsono, M.Si, peneliti Universitas Sanata Darma (USD), Yogyakarta.

Ia membuktikan limabh ikan potensial sebagai bahan bakar. Menurut kepala pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Darma itu limbah ikan kaya minyak. Untuk mngolahnya pun sederhana. Mula-mula ia memotong-motong limbah itu dan memanaskan hingga terbentuk minyak ikan pada suhu 60oC. Lantas, ia menambahkan pelarut semipolar dan campupran asam kuat asam sulfat serta air aki, hingga diperoleh bilangan asam 3 mg KOH/g minyak.

“Rendemen limbah ikan mencapai 68%,” kata Kristio. Itu artinya untuk 1 liter minyak bakar hanya perlu 1,6 kg limbah ikan. Agus Unggul ST dari Fakultas Sains dan Teknologi di USD menguji daya bakar inyak limbah ikan. Hasilnya, nilai panas minyak ikan lebih tinggi ibandingkan minyak bahan bakar fosil, tetapi di bawah minyak tanah. Nilai panas minyak ikan 9.270 kal/g; minyak bakar fosil 8.760 kal/g; dan minyak tanah 11.000 kal/g. kandungan air minyak limbah ikan lebih tinggi disbanding minyak tanah, 10,4% : 2,5%.

Biaya untuk ,enghasilkan 1 liter minyak limbah ikan Rp 2.167 – Rp 3.500. kristio memang baru membuatnya dalam skala laboraturium. Namun, dengan cara yang sama, Saint Peter’s, pabrik pengola ika di Amerika Serikat mampu memanfaatkan limbahnya untuk menggerakkan 10 truk dan 8 bus angkutan bagi 1.500 karyawannya setiap hari. Pabrik itu menghasilkan 1.135.000 liter biodiesel per tahun dari kepala, kulit, dan organ 25-juta kg ikan.

Langkah-langkah pengolahan limbah ikan menjadi minyak, sebagai berikut.

1. Rebus limbah ikan

2. Lemak muncul di permukaan atas

3. Ambil lemak dan sendok

4. Tambahkan asam sulfat, panaskan, dan aduk

5. Tambahkan soda api dan spiritus. Panaskan dan aduk lagi

6. Mucul 2 lapisan metal ester dan gliserin

7. Ambil metal ester

8. Metal ester sebagai bahan bakar kompor